TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

oret oret gak jelas

Pengalaman hidup itu memang luar biasa, seseorang  yang ndak bisa merasakan manis pahitnya kehidupan ini maka ia belum bisa dikatakan manusia yang hidup di dunia ini. Karena kehidupan ini penuh dengan manis pahitnya perjalanan hidup.
Perjalanan hidup ini akan terasa nikmat jika kita bisa mengucapkan syukur setiap gerak gerik tingkah laku kita. Karena dengan rasa syukur kita kepada Allah maka segala sesuatu akan terasa indah. Indah banget seperti mandi kembang.

Cinta. Semua manusia pasti memiliki rasa cinta. Entah itu cinta kepada manusia, cinta kepada barang, cinta kepada yang lain. Kalau cinta kepada Allah, itu mah sudah pasti. Perasaan cinta kepada manusia sudah menjadi budaya masyarakat di dunia ini. Laki laki punya perasaan kepada wanita itu hal yang biasa, tapi kalu laki laki punya perasaan cinta ke laki laki juga itu hal yang sangat luar biasa yang di larang oleh agama.
Remaja saat ini sudah termakan oleh budaya barat. Yakni mengungkapkan perasaan cinta kepada orang lain. Laki laki harus dulu mengungkapkan perasaan cinta kepada perempuan. Bukan perempuan dulu yang mengungkapkan perasaan cinta kepada laki laki. Staitmen ini sudah jadi kebiasaan yang sebenarnya keliru. Coba kita tengok pada zaman Nabi Muhammad SAW yang punya istri khodijah. Siapa dulu yang mengungkapkan rasa cinta mereka. Ya benar, siti khodijah yang mengungkapkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Perempuan saat ini termakan kata “gengsi”, yaa. Gengsi yang menjadi kebiasaan itu di pertahankan.

Komentar