TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Arti Zuhud

 Suatu hari, ada seorang santri yang gelisah terkait makna zuhud, sehingga santri ini memberanikan diri bertanya kepada Sang Guru, 

“Kiai, apa yang dimaksud

zuhud dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin?” tanya santri penuh penasaran.


“Kamu belum paham ya?” Sang guru  balik bertanya.


“Belum, Kiai,” jawab santri.


“Sekarang kamu ke sana. Itu ada bak mandi, kamu isi sampai penuh ya,” perintah Sang Guru.


“Injeh, Kiai. Siap!,” jawab santri dengan intonasi manthab.


Santri itu kemudian mengisi dua bak mandi besar yang ada di situ. Santri itu menimba air dari sumur yang tak jauh dari bak mandi. Karena begitu penasaran dengan makna zuhud, santri ini tidak terasa sudah mengisi secara penuh bak mandi itu. Capek, tentu saja. Tapi itu tak dirasakan sedikitpun oleh santri itu.


“Sudah selesai, Kiai. Dua bak mandi sudah penuh semua.” Santri itu melaporkan tugasnya kepada Sang Guru.


“Kamu capek atau tidak?” tanya Sang Guru.


“Injeh, Kiai, Capek, tapi saya senang, Kiai,” jawab santri dengan tetap riang gembira.


“Ya sudah. Sekarang kamu mandi dulu ya. Habis mandi, nanti ke rumahku ya,” tegas Sang Guru.


“Injeh, Kiai. Nderek'aken Dawuh,” jawab santri.


Karena merasakan capek yang sangat, santri itu bergegas mandi ingin menikmati segarnya air yang sudah diambil dari sumur. Begitu nikmat ia mandi, sehingga ia tersadar untuk segera sowan kepada Sang Guru.


Setelah ganti baju yang pantas, santri itu bergegas sowan.


“Sudah rampung mandinya?”


“Sudah, Kiai.” Jawab santri dengan gembira.


“Airnya kamu habiskan?” tanya Sang Guru.


“Ya tidak, Kiai. Saya gunakan secukupnya saja.” Jawab santri.


“Itulah zuhud wahai, anakku. Carilah

harta sebanyak-banyak, tapi gunakan harta itu secukupnya saja. Sisanya biar dimanfaatkan untuk keperluan orang lain yang membutuhkan.” Tegas Sang Guru dengan sederhana.


Santri itu kaget dan terpana dengan jawaban sederhana dari Sang Guru yang sangat dihormatinya itu. Tanpa perlu dalil-dalil dan tanpa kalimat berbahasa Arab yang fasih, Sang Guru memberikan jawaban yang sangat tepat bagi santri itu.

Komentar