TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

OLEH OLEH NGAJI KITAB TAFSIR AL IBRIZ


 


PONDOK PESANTRENNYA KH. KHUSEN ILYAS

Pengajian kitab ini di adakan rutin setiap hari jumat pagi, di asuh oleh beliau langsung romo yai Khusen Ilyas Mojokerto. jumat tanggal 26 bulan november saya diberi nikmat oleh Allah untuk  bisa ikut pengajian kitab tafsir al ibriz. 5 kilo meter dari ndalem beliau sudah berjejer jejer orang menggelar dagangannya. Beraneka macam produk yang di jual disana, mulai dari sayu sayuran, kebutuhan pokok, sembako, baju, perlengkapan dapur dan sejenisnya. Kulewati begitu saja dagangan orang di sepanjang jalan menuju ndalem beliau.  tibalah saya di warung nasi dan kopi di depan ndalem beliau, kayaknya cocok ne buat mendengarkan pengajian sambil nyruput kopi.

Saya melihat 4 spiker corong berada di atas bangunan pondok pesantren beliau, masing masing menghadap barat dan timur. Terdengar jelas lantunan suara sholawat sebelum pengajian dimulai. Jarum jam pendek sudah berada di atas angka delapan, terdengarlah suara pengumuman dari bilik spiker corong tersebut. “pangapunten dateng jamaah pengaosan tafsir al Ibriz, beliau romo yai Khusen Ilyas tasek gerah, monggo kito kintun doa fatihah mugi mugi panjenenganipun romo yai Khusen Ilyas enggal di paringi saras, saget bimbing kulo lan penjengan sedoyo, amin, al fatihah”

“gruk gruk” terdengar suara dari bilik spiker, pertanda akan dimulainya pengajian kitab tafsir al Ibriz yang dalam hal ini akan di sampaikan beliau yang menggantikan romo yai Khusen. Berikut catatan yang saya dapat dari “JIPENG” ngaji kuping.

1.       Nek gusti Allah purun  nyikso menungso keranten kekafiran utawi kedzoliman, niku sangat mudah bagi Allah. lah koq saknki tasek katah tiang seng dzolim ten dunyo niki, seng jelas jelas ketingal.  Tenang sok mben nek wes teko geh teko, sak kedipan moto geh mpun ajur. Tapi iki siksone di tunda sek kale gusti Allah. Nek wes teko wong dzolim gak isok opo opo,. Lah niki nduduhne nek Allah niku moho Rahman lan Moho Rohim.

Dzolim niku wonten 3

1.       Dzolimm yang tidak bisa di sepuro deneng Allah niku musrik, menyekutukan Allah. Mangkakne pentinge ngaji ngeten niki niku, ben imane dewe tambah kuat. Ngroso nek nopo nopo niku keranten gusti Allah

2.       Dzolim karo gusti Allah bisa di pangapuro, seperti meninggalkan sholat, puasa dan sejenisnya, yang penting melaksanakan taubatan nasukhah.

3.       Dzolim yang ada perhitungane dewe ten akhirat, nopo? Dzolim kale menungso, kagungan hutang ten dunyo, niki seng berat. Dzolim seperti ini akan dicatat sama malaikat dan di tagih besok ten akhirat. Contoh nek menungso kagungan salah kale menungso trus ugung halal halalan, sok ben ten akhirat geh di tagih. Ngilokno uwong, rasan rasan, fitnah uwong. Lah nek uwong kui gak iklhas, sok ben bakal di tageh. Lan niku biso ngurangi ganjaran ibadah kita.

Dzolim yang nomor tiga ini emang berat, berat sekali. Jadi melalui tulisan ini, siapa saja yang mengenal saya, saya memohon maaf yang sebesar besarnya. Kalau masih mengganjal di hati, saya mohon kalian bilang ke saya. Kalau masih punya hutang, monggo jenengan sanjang kulo

Komentar