TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Pengertian Bagi Hasil Dalam Koperasi Syariah

 Bagi hasil adalah mekanisme pembagian keuntungan yang digunakan dalam koperasi syariah. Dalam koperasi syariah, kegiatan usaha dilakukan berdasarkan prinsip syariah yang melarang riba (bunga) dan mengedepankan keadilan dalam pembagian hasil.

Pada dasarnya, bagi hasil merupakan pembagian keuntungan antara koperasi sebagai pemilik modal dan anggota koperasi sebagai pemilik dana. Anggota koperasi yang menyimpan dananya di koperasi berperan sebagai pemilik modal dan ikut serta dalam risiko kegiatan usaha. Oleh karena itu, mereka berhak mendapatkan bagian dari keuntungan yang diperoleh oleh koperasi.

Mekanisme bagi hasil di koperasi syariah melibatkan beberapa tahapan, antara lain:

  1. Penentuan nisbah bagi hasil: Nisbah adalah persentase pembagian keuntungan antara koperasi dan anggota. Nisbah ini biasanya disepakati dalam rapat anggota atau berdasarkan kesepakatan tertulis antara koperasi dan anggota.

  2. Pengumpulan dan pengelolaan dana: Anggota koperasi menyetor dana mereka ke koperasi yang kemudian digunakan sebagai modal usaha. Koperasi menggunakan dana tersebut untuk menjalankan kegiatan usaha yang menghasilkan keuntungan.

  3. Perhitungan keuntungan: Setelah periode tertentu, biasanya satu tahun, koperasi menghitung keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usahanya. Keuntungan ini dihitung setelah dikurangi dengan biaya operasional, pengeluaran, dan cadangan dana.

  4. Pembagian keuntungan: Keuntungan yang dihasilkan dibagi antara koperasi dan anggota sesuai dengan nisbah yang telah ditentukan. Bagian koperasi biasanya digunakan untuk pengembangan usaha dan pemenuhan kebutuhan koperasi secara umum. Bagian anggota akan dibagikan kepada mereka sesuai dengan simpanan yang mereka miliki di koperasi.

Pembagian keuntungan ini dilakukan secara proporsional berdasarkan besarnya simpanan anggota di koperasi. Dalam prakteknya, semakin besar simpanan yang dimiliki oleh anggota, semakin besar pula bagian keuntungan yang akan diterima.

Penting untuk dicatat bahwa bagi hasil dalam koperasi syariah berbeda dengan bunga dalam sistem keuangan konvensional. Bagi hasil merupakan pembagian keuntungan yang ditentukan setelah keuntungan nyata diperoleh oleh koperasi, sedangkan bunga dalam sistem konvensional merupakan imbalan tetap yang dihitung berdasarkan jumlah pinjaman atau simpanan tanpa mempertimbangkan keuntungan yang dihasilkan oleh kegiatan usaha.

Dengan mekanisme bagi hasil, koperasi syariah menerapkan prinsip keadilan dan kebersamaan dalam pembagian keuntungan, serta memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk berpartisipasi dalam kegiatan usaha dan memperoleh keuntungan dari usaha tersebut.

Komentar