TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Antam

 



FOMO adalah reaksi emosional, bukan keputusan rasional.

Kamu beli bukan karena paham, tapi karena takut harga naik lagi.

Fungsi utama emas adalah menahan inflasi, bukan menggandakan uang.

Jadi kalau kamu berharap beli hari ini, jual bulan depan lalu langsung untung besar, kamu salah tempat.

Itu bukan investasi, itu spekulasi.

Coba perhatikan orang-orang yang benar-benar paham finansial.

Mereka tidak beli emas karena rame.

Mereka beli karena sudah punya rencana portofolio jelas.


kesalahan klasik para korban FOMO adalah

Melihat grafik naik, langsung beli.

Padahal kalau grafik naiknya curam dan cepat, justru itu sinyal bahaya, bukan peluang.


Emas itu bukan alat cari cuan cepat.

Emas adalah penjaga nilai, bukan pencetak nilai.

Fungsi emas dalam keuangan:

1. Pelindung dari inflasi.

Nilainya cenderung stabil jangka panjang.

2. Diversifikasi portofolio.

Menyeimbangkan risiko dari aset lain seperti saham atau reksa dana.

3. Likuiditas cadangan.

Bisa dijual kapan saja dalam keadaan darurat.


FOMO itu muncul karena kamu tidak punya rencana finansial pribadi.

Kalau kamu tahu tujuan dan strategi investasimu, kamu tidak akan goyah cuma karena tren viral.


Mulai dari sini:

1. Tentukan tujuan finansialmu (misal: dana pensiun, pendidikan anak, dana darurat).

2. Tentukan berapa persen aset yang mau dialokasikan ke emas (idealnya 10–20%).

3. Pelajari cara beli emas dengan aman (resmi, tersertifikasi, dan bukan abal-abal).

4. Catat harga beli dan target jangka panjang.

Kalau kamu punya arah, kamu tidak butuh ikut orang lain.

Karena kamu tahu ke mana kamu mau pergi.

FOMO itu menciptakan siklus bodoh:

Takut ketinggalan → beli di harga tinggi.

Takut rugi → jual di harga rendah.

Investasi bukan tentang siapa paling cepat, tapi siapa paling sabar dan paham arah.


“Bukan karena kamu tidak punya emas kamu miskin, tapi karena kamu tidak punya rencana kamu tetap akan miskin.”






#hasil kutipan

Komentar