21.000
Kilometer di Bulan Suci Ramadhan 2026
Kilometer-kilometer
itu menjadi awal perjalanan diri ini mengarungi lautan ketidakpastian, terutama
dalam hal kesejahteraan. Namun di tengah luasnya samudra itu, diri ini seakan
dipaksa untuk terus mencari satu hal yang lebih berharga dari sekadar hasil
perjalanan: mutiara kedamaian.
Puluhan
ribu kilometer telah terlewati, namun diri ini sering kali merasa belum
benar-benar memberi kontribusi yang berarti. Belum pula merasa memberikan
dampak yang nyata terhadap sesuatu yang membuat diri ini kembali merasa hidup menjadi
manusia yang bermanfaat sebagaimana mestinya.
Perasaan
itu justru semakin kuat ketika orang lain menganggap diri ini mampu. Di situlah
muncul rasa takut akan hukum keseimbangan: ketika apa yang diterima
terasa lebih besar daripada apa yang telah diberikan.
Namun
setiap kali kegelisahan itu datang, selalu terngiang nasihat sederhana dari
Mbah Yai:
"Sudah…
apapun itu, dan dalam kondisi apa pun, bersyukur adalah harga mati yang harus
jenengan lakukan. Di mana pun dan dalam posisi apa pun, lakukan yang terbaik.
Berikan yang terbaik, karena Allah SWT."
Nasihat
itu selalu hadir, menenangkan hati, setiap kali diri ini kembali tenggelam
dalam pertanyaan-pertanyaan panjang tentang perjalanan hidup ini.

Komentar
Posting Komentar