TERBANYAK

INSPIRATIF! PULUHAN SANTRI HOLDING KOPERASI BMT NU NGASEM GROUP LULUS S1 DI TENGAH PERJUANGAN

  Hari ini, 19 April 2026, menjadi momen yang penuh makna. Sebagian besar teman-teman seperjuangan di Holding BMT Ngasem Group telah menapaki satu pencapaian penting: mengikuti wisuda mahasiswa Universitas Terbuka yang diselenggarakan di gedung kampus Unair Surabaya. Beragam latar belakang baik dari sisi jabatan, kondisi keuangan, keluarga, maupun lingkungan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk terus bertumbuh. Justru semua itu menjadi alasan untuk melangkah lebih jauh, menjadi pribadi yang lebih baik, lebih produktif, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Saya teringat pada ungkapan penuh semangat dari KH Wahab Chasbullah, pendiri dan inspirator Nahdlatul Ulama: “Tidak ada kata udzur dalam berjuang.” Sebuah kalimat sederhana namun sarat makna, yang menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk berhenti baik karena lelah, usia, maupun keterbatasan. Hari ini, ungkapan itu terasa begitu nyata. Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang terus berproses dalam wadah perjuangan. Gelar Sarjana...

21.000 KM

 


21.000 Kilometer di Bulan Suci Ramadhan 2026

21.000 kilometer.
Angka yang tidak kecil.
Terlebih jika perjalanan itu ditempuh dalam kondisi ketidakpastian

Sikap dan prinsip akan selalu sama, dan semoga tetap demikian selamanya.
Kecuali jika Allah menghendaki perubahan, maka berubah pula semuanya. Karena pada akhirnya, kehendak-Nya adalah keputusan tertinggi bagi setiap langkah manusia.

Kilometer-kilometer itu menjadi awal perjalanan diri ini mengarungi lautan ketidakpastian, terutama dalam hal kesejahteraan. Namun di tengah luasnya samudra itu, diri ini seakan dipaksa untuk terus mencari satu hal yang lebih berharga dari sekadar hasil perjalanan: mutiara kedamaian.

Lalu, apa sebenarnya yang diharapkan dari perjalanan panjang ini?
Apakah keberhasilan?
Ketenaran?
Jabatan?
Dihormati dan disegani orang?
Atau terpenuhinya seluruh kebutuhan hidup?

Entahlah.
Semua itu terasa berubah-ubah, mengikuti situasi dan kondisi yang datang silih berganti.

Puluhan ribu kilometer telah terlewati, namun diri ini sering kali merasa belum benar-benar memberi kontribusi yang berarti. Belum pula merasa memberikan dampak yang nyata terhadap sesuatu yang membuat diri ini kembali merasa hidup menjadi manusia yang bermanfaat sebagaimana mestinya.

Perasaan itu justru semakin kuat ketika orang lain menganggap diri ini mampu. Di situlah muncul rasa takut akan hukum keseimbangan: ketika apa yang diterima terasa lebih besar daripada apa yang telah diberikan.

Namun setiap kali kegelisahan itu datang, selalu terngiang nasihat sederhana dari Mbah Yai:

"Sudah… apapun itu, dan dalam kondisi apa pun, bersyukur adalah harga mati yang harus jenengan lakukan. Di mana pun dan dalam posisi apa pun, lakukan yang terbaik. Berikan yang terbaik, karena Allah SWT."

Nasihat itu selalu hadir, menenangkan hati, setiap kali diri ini kembali tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan panjang tentang perjalanan hidup ini.

Komentar