TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

MUNGKINKAH







Mungkinkah?

“Mungkinkah?”
Satu kata yang selalu datang menghampiriku pelan tapi pasti, menelusup ke dalam hati dan pikiran.
Rasa ragu sering kali menjerat langkahku, membuatku bertanya tanpa henti:

Mungkinkah aku bisa berubah?
Mungkinkah kita akan selalu bersama?
Mungkinkah aku bisa bertemu beliau di sana?
Mungkinkah aku bisa lulus tahun ini?
Mungkinkah masa depanku cerah dan sukses?
Mungkinkah aku menjadi orang yang lebih baik?
Mungkinkah dia adalah jodohku?
Mungkinkah hati ini akan selalu bersih?
Mungkinkah semua kecemasanku justru memperlambat langkahku menuju kesuksesan?
Dan mungkinkah semua pertanyaanku ini akan dijawab oleh-Nya?

Pertanyaan demi pertanyaan itu akhirnya menuntunku pada satu hal:
percaya diri.
Setiap hari, aku berusaha menanamkannya di dalam diri, berharap tak ada lagi ruang bagi keraguan.

Aku tahu, manusia sepertiku tak luput dari kekurangan.
Begitu banyak kesalahan yang pernah kuperbuat, begitu banyak penyakit hati yang kadang tak kusadari.
Namun, di balik semua itu, aku bersyukur karena aku masih bisa melihat kekuranganku sendiri, bukan sibuk menilai orang lain.

Maka tugasku kini sederhana: memperbaiki diri.
Berdoa dan berusaha, dua hal yang tak pernah ingin kulepaskan.
Berdoa agar hidupku diberkahi dan diridai oleh Allah.
Berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dalam ibadah, dalam bersosial, dalam setiap langkah menuju masa depan.

Aku ingin sukses, bukan hanya kaya harta, tapi juga kaya hati.
Karena aku tahu, segala yang kumiliki hanyalah titipan sementara.
Dan semoga, ketika waktuku tiba, aku pulang dalam keadaan telah berusaha sebaik-baiknya.

Komentar