TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...



Percakapan saya dengan  penjual pentol
Bahasa asli yang digunakan adalaha bahasa jawa, tapi saya tulis dengan bahasa nasional. Tempat percakapan ini ada di POM bensin mojoagung.
Saya                       : pak, gimana kabarnya? Koq tidak  pernah lewat di kampungku
Penjual pentol  : ia le… aku stand by di POM aja, karena disini sudah terjual banyak  pentolku le.
Saya                       : oh.,ngoten to pak, aku kangen sama pentolnya pak, udah lama tak makan pentol.
Penjual pentol  : ia lee.,.,aku tak pernah lihat kamu see, kemana aja kamu?
Saya                       : 1 bulan saya di jogja pak.
Penjual pentol  : oh,.,.ngapain d jogja?
Saya                       : belajar lan cari penglaman saja pak, aku beli pentol 3.000 aja pak.
Penjual pentol  : siap boz (sambil mengambil pentol)
Psaya                    : pak boleh Tanya?
Penjual pentol  : Tanya apa le? Ne pentolmu.
Saya                       : nyam nyam nyam. Pentolnya  masih enak pak.
Penjual pentol  : hehehe.,.,Alhamdulillah. Jadi Tanya apa kamu le?
Saya                       : ne pak.,.,.,pak.e sudah tak pernah keliling kampong th?
Penjual pentol  : sudah jarang keliling le,.,karena disini sudah rame
Saya                       : oh ngoten,.,.pak. kira kira penghasilan bapak perhari berapa?
Penjual pentol  : iya...tak pasti le..,.,kalau malam minggu pendapatan bersih sampai 300.000 kalau hari hari biasa ya paling besar 150 perhari.
Saya                       : itu sudah dipotong sama belanjanya, rokok, makan dan bensin ta pak?
Penjual pentol  : iya itu bersihnya lee..
Saya                       : berangkat jualan itu jam berapa and sampai jam berapa pak?
Penjual pentol  : berangkatku ya sore le, habis ashar, kalau pulangnya tidak pasti, kalau jam 10 malam sudah habis ya pulang, tapi kalau belum habis ya sampai jam 12 malam.
Saya                       : oh begitu to pak. Berapa lama bapak jualan ini? Punya anak berapa pak?
Penjual pentol  : sudah 4 tahun lee, punya anak 2 masih sekolah le.
Saya                       : kalau dihitung per bulan pendapat bapak kurang lebih 6 jutaan ya pak?
Penjual pentol  : iya segitu lee…
Saya                       : kenapa bapak tidak memilih jadi pegawai di pabrik, pegawai di kantoran, kan kalau jadi pegawai ka nada pensiunnya ada tunjangannya?
Penjual pentol  : loala le le,.,.,lah pendapatan pegawai sama aku masih besaran punyaku, kalau jadi pegawai itu tidak bisa bebas dan senang karena diperintah dan diatur atur iya kan? sebesar apapun jabatan dperusahaan atau pabrik tetap saja menjadi pegawai, tapi sekecil apapun usaha yang kita miliki kita sudah dipanggil BOZ.  Aku tidak mencari pekerjaan le, tapi aku membuat Lapangan pekerjaan. Kamu sarjana jangan mengandalakan ijasahmu saja, jangan mencari pekerjaan tapi buattlah pekerjaan, pokoknya jangan gengsi, lakukan usaha apapun yang penting halal dan memberi manfaat bagi orang lain.
Saya                       : siap pak (dengan penuh semangat), ya udah pak aku pamit pulang, monggo.,.,
Penjual pentol  : nggeh monggo.,.,atos atos (iya silahkan  hati hati)
               

By jack





Komentar