TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Kyai Plat Merah


Sudah semingguan ini, nglempiti (baca : melipat) contoh surat suara menjadi wiridan kami seusai ngaji.
Sebagai santri, sempat terasa berat bagi kami, menerima kenyataan Kyai kami ikut NYALEG dalam pilkada tahun ini. Apalagi tetangga pondok sriwing - sriwing terdengar mulai ngrasani Kyai kami sebagai Kyai Plat Merah. Sungguh mendengar itu : endas rasane arep petcah..
** ** **
Tapi alhamdulillah, wetonan ngaji riyadhus sholihin pagi ini, membuat beban yang kami rasakan, serasa ambyar menjadi tak terasa, berganti rasa bangga yang tak terkira.
"Kang...", Kyai Sholeh (kyai kami) membuka penjelasannya. Sementara kami kompak menunduk khusuk, terlalu sungkan untuk menatap wajah beliau.
"DPR RI saiki, ibarat te wes koyo kotor e peceren. Trus pie cara ne ngresiki peceren?... opo cukup diresiki lewat demo pengerahan massa?.. opo cukup diresiki lewat gerakan sholat subuh berjama'ah?.. ora cukup kang!.. sebab iku kabeh adalah iktiar membersihkan peceren, dari luar peceren"
Kami masih menunduk, belum mengerti arah pembicaraan Kyai Sholeh.
"Mangkane saiki aq njaluk dungo pyn kabeh, aq tak nyoba njegur peceren, karena hanya dengan cara ini : aq iso melu iktiar ngresiki peceren, teko njerone peceren"
Kami menarik nafas lega, mulai memahami alur berfikir Kyai Sholeh.
Setelah nyruput white coffee nya (he3x.. sponsor titik), Kyai Sholeh melanjutkan :
"Biarpun untuk itu : resikonya pyn kabeh melu dadi rasan2ne tonggo, pyn dianggep dadi santrine Kyai Plat Merah"
Kami tersenyum trenyuh, merasakan empati beliau.
"Tapi kang!.. Pie - pie ndewe kudu tetep belajar manut dhawuh e gusti Allah, ojo sampek ndhewe dadi galau hanya karena rasan - rasane lambe turah".
Kami manggut - manggut, membenarkan semua yang beliau sampaikan, sambil bertekat dalam hati akan ikut membantu iktiar Kyai Sholeh sebisa kami, biarpun cuma sekedar ikut nglempiti contoh surat suara.
Wallahu a'lam.
by. BS
Founder KOMA Nusantara

Komentar