TERBANYAK

FENOMENA KONTEN PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SNBP 2026

  Pada tanggal 31 Maret 2026, banyak beredar konten tentang pengumuman hasil seleksi SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Berbagai ekspresi ditampilkan ada yang sangat bahagia ketika namanya dinyatakan lulus, ada pula yang tampak datar saat mengetahui dirinya belum berhasil. Saya menyaksikan fenomena ini dengan perasaan yang biasa saja. Bukan karena pada masa saya tidak ada jalur seperti ini justru saya sendiri termasuk salah satu peserta yang pernah lulus tanpa tes, yang dulu dikenal dengan jalur PMDK. Namun, beberapa tahun terakhir terasa ada perbedaan dalam memandang hal tersebut. Tidak lagi terasa luar biasa. Saya melihat bahwa saat ini, sekolah atau universitas justru membutuhkan mahasiswa, bukan sebaliknya. Berbeda dengan era tahun 2000-an, ketika jumlah kampus belum sebanyak sekarang dan persaingan terasa lebih ketat. Bagi yang dinyatakan lulus, jangan cepat merasa puas. Perjalanan masih panjang ini baru awal. Lakukan yang terbaik dan terus berikan yang terbai...

Kyai Plat Merah


Sudah semingguan ini, nglempiti (baca : melipat) contoh surat suara menjadi wiridan kami seusai ngaji.
Sebagai santri, sempat terasa berat bagi kami, menerima kenyataan Kyai kami ikut NYALEG dalam pilkada tahun ini. Apalagi tetangga pondok sriwing - sriwing terdengar mulai ngrasani Kyai kami sebagai Kyai Plat Merah. Sungguh mendengar itu : endas rasane arep petcah..
** ** **
Tapi alhamdulillah, wetonan ngaji riyadhus sholihin pagi ini, membuat beban yang kami rasakan, serasa ambyar menjadi tak terasa, berganti rasa bangga yang tak terkira.
"Kang...", Kyai Sholeh (kyai kami) membuka penjelasannya. Sementara kami kompak menunduk khusuk, terlalu sungkan untuk menatap wajah beliau.
"DPR RI saiki, ibarat te wes koyo kotor e peceren. Trus pie cara ne ngresiki peceren?... opo cukup diresiki lewat demo pengerahan massa?.. opo cukup diresiki lewat gerakan sholat subuh berjama'ah?.. ora cukup kang!.. sebab iku kabeh adalah iktiar membersihkan peceren, dari luar peceren"
Kami masih menunduk, belum mengerti arah pembicaraan Kyai Sholeh.
"Mangkane saiki aq njaluk dungo pyn kabeh, aq tak nyoba njegur peceren, karena hanya dengan cara ini : aq iso melu iktiar ngresiki peceren, teko njerone peceren"
Kami menarik nafas lega, mulai memahami alur berfikir Kyai Sholeh.
Setelah nyruput white coffee nya (he3x.. sponsor titik), Kyai Sholeh melanjutkan :
"Biarpun untuk itu : resikonya pyn kabeh melu dadi rasan2ne tonggo, pyn dianggep dadi santrine Kyai Plat Merah"
Kami tersenyum trenyuh, merasakan empati beliau.
"Tapi kang!.. Pie - pie ndewe kudu tetep belajar manut dhawuh e gusti Allah, ojo sampek ndhewe dadi galau hanya karena rasan - rasane lambe turah".
Kami manggut - manggut, membenarkan semua yang beliau sampaikan, sambil bertekat dalam hati akan ikut membantu iktiar Kyai Sholeh sebisa kami, biarpun cuma sekedar ikut nglempiti contoh surat suara.
Wallahu a'lam.
by. BS
Founder KOMA Nusantara

Komentar