TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Surat Untuk Bapak

 


Aku bangga padamu, aku sangat bersyukur punya bapak sepertimu, aku sangat merindukanmu, tapi aku malu kepadamu, q malu sangat malu, aku yang telah lulus sarjana belum sempat membahagiakanmu, belum bisa membahagiakan ibu, dan belum bisa sepertimu. engkau yang hanya lulus Sekolah Dasar (sd) saja tapi engkau bisa membahagiakan kelima anak-anakmu dan  menyekolahkan anak anakmu sampai kejenjang perguruan tinggi negeri. Dengan bekal hanya lulus SD tapi semangat yang engkau miliki seperti orang sarjana dari perguruan tinggi negeri. dengan semangat yang begitu besar yang engkau miliki,  engkau bisa mendirikan tempat bisnis, bisnis itu menurutku besar dan luar biasa karena engkau hanya lulusan SD dan saat ini tempat bisnismu itu sudah dilanjutkan oleh anak2mu, jasamu begitu besar buat anakmu ini, tapi anakmu ini belum bisa membalasnya dan melampaui keberhasilanmu. tapi aku janji, bahwa aku akan membuatmu tersenyum disana, aku akan membahagiakan ibu demi cintaku padamu.

            Dua belas tahun sudah jasadmu meninggalkan kami, tapi jiwamu akan selalu ada di hati kami, karena menurut kami kau adalah family hero.  Hidup dua belas tahun tanpa kehadiranmu sungguh membuat hati selalu menangis, karena  disaat aku ada masalah aku selalu mengadu padamu, tapi selama itu tak seorangpun yang  bisa memberikanku semangat dan motivasi sepertimu. Selama itupun aku juga dianggap sebelah mata sama orang-orang karena aku tak punya bapak, tapi  jangan khawatir, aku selalu menjawab bahwa aku selamanya mempunyai bapak. 

            Aku selalu mengeluarkan air mata ketika mengingatmu, aku teringat disaat kita tinggal dirumah sakit, 1 bulan aku menemanimu, tidur dibawah kasurmu, aku menyaksikan betapa jenengan kuat melawan penyakitmu,  dan ketika itu jenengan sempatkan perhatianmu pada anakmu ini, jenengan sempatkan untuk membelikan anakmu ini sebuah laptop, meskipun keluarga membutuhkan dana untuk biaya rumah sakit, tapi jenengan rela sisakan uang itu demi belikan anakmu ini laptop. Tapi pak, tak lama jenengan pulang ke rahmatullah, laptop yang jenengam belikan itu telah dicuri orang, maafkanlah anakmu yang dhoif ini pak, anakmu yang dhoif ini tidak bisa menjaga barang pemberianmu.

Ketika bapak sudah tak bersama kami dalam bentuk wujud, anakmu ini mengalami musibah yang berturut turut, cobaan yang membuat air mata tak bisa dihentikan, tapi tenang, aku akan menjadi anakmu yang tegar dan kuat dalam menjalani musibah ini, karena itu semua adalah rencana Allah dan rencana-Nya pasti terbaik untukku. Aku akan berusaha untuk bisa selalu semangat seperti semangatmu pak. Aku akan selalu tersenyum untukmu, tapi aku tak bisa menahan air mata ketika aku mengingat hal itu semua.

Bapak, semua anak-anakmu telah sukses, ibu juga selalu sehat, cucu cucumu juga bertambah banyak. Anakmu yang dhoif ini sedang mencari jati diri, dan berjalan untuk menggapai impian, demi membahagiakan ibu. Doakan anakmu ini dari sana ya. Setiap langkah dan setiap detik aku selalu mengingatmu dan berdoa untukmu, selalu dan selamanya. Al fatihah.

 

Komentar