TERBANYAK

FENOMENA KONTEN PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SNBP 2026

  Pada tanggal 31 Maret 2026, banyak beredar konten tentang pengumuman hasil seleksi SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Berbagai ekspresi ditampilkan ada yang sangat bahagia ketika namanya dinyatakan lulus, ada pula yang tampak datar saat mengetahui dirinya belum berhasil. Saya menyaksikan fenomena ini dengan perasaan yang biasa saja. Bukan karena pada masa saya tidak ada jalur seperti ini justru saya sendiri termasuk salah satu peserta yang pernah lulus tanpa tes, yang dulu dikenal dengan jalur PMDK. Namun, beberapa tahun terakhir terasa ada perbedaan dalam memandang hal tersebut. Tidak lagi terasa luar biasa. Saya melihat bahwa saat ini, sekolah atau universitas justru membutuhkan mahasiswa, bukan sebaliknya. Berbeda dengan era tahun 2000-an, ketika jumlah kampus belum sebanyak sekarang dan persaingan terasa lebih ketat. Bagi yang dinyatakan lulus, jangan cepat merasa puas. Perjalanan masih panjang ini baru awal. Lakukan yang terbaik dan terus berikan yang terbai...

Surat Untuk Bapak

 


Aku bangga padamu, aku sangat bersyukur punya bapak sepertimu, aku sangat merindukanmu, tapi aku malu kepadamu, q malu sangat malu, aku yang telah lulus sarjana belum sempat membahagiakanmu, belum bisa membahagiakan ibu, dan belum bisa sepertimu. engkau yang hanya lulus Sekolah Dasar (sd) saja tapi engkau bisa membahagiakan kelima anak-anakmu dan  menyekolahkan anak anakmu sampai kejenjang perguruan tinggi negeri. Dengan bekal hanya lulus SD tapi semangat yang engkau miliki seperti orang sarjana dari perguruan tinggi negeri. dengan semangat yang begitu besar yang engkau miliki,  engkau bisa mendirikan tempat bisnis, bisnis itu menurutku besar dan luar biasa karena engkau hanya lulusan SD dan saat ini tempat bisnismu itu sudah dilanjutkan oleh anak2mu, jasamu begitu besar buat anakmu ini, tapi anakmu ini belum bisa membalasnya dan melampaui keberhasilanmu. tapi aku janji, bahwa aku akan membuatmu tersenyum disana, aku akan membahagiakan ibu demi cintaku padamu.

            Dua belas tahun sudah jasadmu meninggalkan kami, tapi jiwamu akan selalu ada di hati kami, karena menurut kami kau adalah family hero.  Hidup dua belas tahun tanpa kehadiranmu sungguh membuat hati selalu menangis, karena  disaat aku ada masalah aku selalu mengadu padamu, tapi selama itu tak seorangpun yang  bisa memberikanku semangat dan motivasi sepertimu. Selama itupun aku juga dianggap sebelah mata sama orang-orang karena aku tak punya bapak, tapi  jangan khawatir, aku selalu menjawab bahwa aku selamanya mempunyai bapak. 

            Aku selalu mengeluarkan air mata ketika mengingatmu, aku teringat disaat kita tinggal dirumah sakit, 1 bulan aku menemanimu, tidur dibawah kasurmu, aku menyaksikan betapa jenengan kuat melawan penyakitmu,  dan ketika itu jenengan sempatkan perhatianmu pada anakmu ini, jenengan sempatkan untuk membelikan anakmu ini sebuah laptop, meskipun keluarga membutuhkan dana untuk biaya rumah sakit, tapi jenengan rela sisakan uang itu demi belikan anakmu ini laptop. Tapi pak, tak lama jenengan pulang ke rahmatullah, laptop yang jenengam belikan itu telah dicuri orang, maafkanlah anakmu yang dhoif ini pak, anakmu yang dhoif ini tidak bisa menjaga barang pemberianmu.

Ketika bapak sudah tak bersama kami dalam bentuk wujud, anakmu ini mengalami musibah yang berturut turut, cobaan yang membuat air mata tak bisa dihentikan, tapi tenang, aku akan menjadi anakmu yang tegar dan kuat dalam menjalani musibah ini, karena itu semua adalah rencana Allah dan rencana-Nya pasti terbaik untukku. Aku akan berusaha untuk bisa selalu semangat seperti semangatmu pak. Aku akan selalu tersenyum untukmu, tapi aku tak bisa menahan air mata ketika aku mengingat hal itu semua.

Bapak, semua anak-anakmu telah sukses, ibu juga selalu sehat, cucu cucumu juga bertambah banyak. Anakmu yang dhoif ini sedang mencari jati diri, dan berjalan untuk menggapai impian, demi membahagiakan ibu. Doakan anakmu ini dari sana ya. Setiap langkah dan setiap detik aku selalu mengingatmu dan berdoa untukmu, selalu dan selamanya. Al fatihah.

 

Komentar