TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

KEBENARAN MUTLAK

 

bagaimana mungkin saya sibuk mengklarifikasi kebenaran ke  orang lain, sedangkan kebanaran mutlak itu hanya milik Allah. Lalu, pantaskah saya meminta pengakuan dari orang lain? Benarkah, bahwa prespektif seseorang terhadap diri ini tergantung bagaimana sikap kita ke orang lain? Terkadang saya sering berkelahi dengan hati ini, berdebat dengan pikiran ini. Menanyakan keadaan, menyampaikan keluhan di sepertiga malam, memandang foto beliau membuat pikiran ini terus berfikir. Lalu ketika semua itu di sampaikan ke orang lain dan mendapatkan jawaban "tetap  bersyukur aja" "seng tenang" ketika itu juga q terbangun dari tidurku. Oh hanya mimpi.

Kamar, lajolor 08 03 23



Lalu, ketika kita menyampaikan sesuatu yang serius, kemudian muncul perdebatan, saling beragumen, tiba tiba ada seseorang berkata "sudah2, gitu aja koq, seng tenang". Ketika itu juga perdebatan di akhiri dan berakhir "kosong".
Padahal, Bukankan perdebatan itu hal yang penting untuk mencari solusi terbaik. Ya betul, ketika kita sedang berdebat dan adu argumen, terkadang kita sulit mengontrol aliran emosi dalam diri manusia. Jika seseorang yang tidak berfikir ada di lingkaran perdebatan, maka akan timbul perasaan membahayakan. Sedangkan bagi orang yang berfikir akan timbul pikiran untuk menenangkan kemudian memberikan pilihan solusi. Dan kita tidak bisa memaksakan orang lain sepaham dengan kita

Kamar, ikan koki, 08.




Komentar