TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

RINDU

 

Rindu

Rindu, kata yang  hanya bisa merasakan, tidak bisa berjumpa

Menambah keyakinan bahwa dia sangat berarti buatku

Rindu, tak bisa membendung air mata

Menambah ketakutan akan penyesalan dariku

 

Computer di depan kasurku sudah berdebu

Pertanda, sudah lama diri ini tak memikirkannya

Dia tidak seperti orang lain, yang bisa menghubungiku kapan saja

Hanya bisa menunggu telfon dariku

 

Tut tut tut, di angkatlah telfonku sama dia

Dia tidak seperti orang lain, yang pintar berbicara

Hanya menunggu pertanyaan dariku

Sesekali bertanya kepadaku “pripun kabarmu?”

 

Tahun berganti, berkurang juga usinya

Staminanya, kesehatannya, kulitnya juga ikut berganti

“sikilku kadang linu, di gawe lunggoh terus kadang linu”

“Alhamdulillah, jek isok sholat jamaah, melu melu pengajian”

 

Inginku selalu berada di sisinya

Menggerakan jari jariku di kakinya bukan di keybord komputer

Memandangnya, bukan memandang computer

Setidaknya, sudah membuat lisan ini berdoa al fatihah buatnya.

 

 

Komentar