TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

7.000 km (PITUlunge gusti Allah)

 




Saya sangat meyakini hal tersebut, jika bukan karena "pitulunge gusti Allah," mungkin saya tidak dapat menulis dan berbagi kisah di balik kilometer ke 7.000 ini. Benar, semua berkat "pitulunge gusti Allah."

Tujuh bulan telah berlalu, segala sesuatunya berjalan berkat "pitulunge gusti Allah."

Dunia tidak pernah benar-benar berhenti. Bahkan ketika manusia berhenti bergerak, bumi tetap berputar. Dan di antara perjalanan waktu tersebut, selalu ada seseorang yang memilih untuk "pergi," bukan karena ingin melarikan diri, tetapi karena ingin selalu berada dalam perlindungan dan "pitulunge gusti Allah."

Apa yang telah saya lakukan dan berikan bukanlah hal yang penting. Siapa saya juga tidak penting, bagaimana saya juga tidak penting. Sebab, seberapa penting pun saya, akhirnya tetap menyatu dengan alam (tanah). Namun, yang penting adalah cerita ini: mengenai perjalanan yang tidak pernah saya rencanakan, tetapi harus saya jalani. Bukan demi peta, bukan demi ketenaran, tetapi demi pemahaman, demi sesuatu yang telah mengubah hidup saya, demi sesuatu yang tiba-tiba pergi meninggalkan saya untuk menunggu di tempat abadi.

Derasnya air mata ini merupakan bagian dari cerita perjalanan di kilometer ke 7.000. Mutiara hati, rembulan malam, telah menemukan batas posisi yang ketika dilihat mata, membuat air mata tak bisa dibendung, menjadikan tubuh ini ingin selalu berada di samping mutiara hati rembulan malam, ingin selalu hadir dalam curhatannya. Namun, apa daya saya sebagai manusia biasa, takdir! Saya harus menjalani takdir, berharap selalu mendapatkan "pitulunge gusti Allah," dan saya mendapatkan itu. Alhamdulillah, terima kasih Allah.


Komentar