TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Anniversary 8 Tahun

 


‎8 tahun telah kita lewati. Salam kasih sayang untuk istriku tercinta. Bagaimana rasanya menjalani delapan tahun bersama seorang anak laki-laki yang memiliki banyak kekurangan? Oh iya, kekurangan itu sudah tertutup dengan kelebihanku ya?  kelebihan berat badan maksudnya?  perut jemblung. Hehe

‎Rasanya tidak enak sekali kalau momen seumur hidup sekali ini di biarkan kosong, ya kan? Oke saya isi dengan menulis ya, kalau tidak suka jangan di baca ya, kalau suka silahkan di tutup saja WA.nya. Hehe. doakan yang baik ya buat keluarga kami, pasti doa itu kembali kepada yang berdoa.  begitu enaknya ya hidup ini. oke saya tulis.

‎Merayakan Anniversary ke-8, semoga hidup penuh berkah dan keluarga diberkahi. Kita tidak dapat menghindari ujian yang menanti di jalan menuju keluarga sakinah mawaddah  rahmah wa barokag, kita harus menghadapinya bersama-sama, saling terbuka, saling mendukung, saling mengevaluasi, sering berkomunikasi, dan bekerjasama. Tidak hanya kerikil kerikil kecil saja, tetapi badai-badai yang telah kita lewati bersama masih akan tetap ada menunggu di depan perjalanan kita. Oleh karena itu, "kuatkan" menjadi kata yang sering aku panjatkan dalam doa kepada Allah untuk keluarga besar kita, kuatkan kesabaran, kuatkan keikhlasan, kuatkan motivasi, kuatkan fisik kita, kuatkan segalanya.

‎Istriku, terima kasih atas pengertian dan kesabaranmu selama ini menghadapi perilaku suamimu ini. Terima kasih bersedia menjadi yang kedua setelah ibu, terima kasih telah mengizinkan suamimu ini untuk berusaha membahagiakan dua ratu di dunia ini, terima kasih. Mohon maaf, tidak perlu saya sebutkan kesalahan-kesalahan saya, karena jumlahnya sngat banyak. Cukup dengan permohonan maaf. Pasti di maafkanm hehe

‎Ungkapan ini bukan untuk membagikan kebahagiaan semata, bukan untuk mencari validasi, bukan untuk pencitraan, bahkan bukan untuk pamer. Ini semata-mata karena mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada keluarga besar kami. Apapun yang terjadi, kita harus mensyukuri. Kalian berhak bahagia dengan versi terbaik kalian, jadilah diri sendiri dengan versi terbaik kalian. salah satu bentuk kebahagiaan adalah mensyukuri apapun yang terjadi. Alhamdulillah.

Komentar