TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Cahaya Dari Parengan

 





Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa langkah kaki saya akan sampai sejauh ini. Di balik setiap perjalanan, selalu ada sosok yang menjadi cahaya penuntun, dan bagi saya, beliau adalah KH. Miftahul Asror. Doa dan restu dari beliau menjadi salah satu wasilah yang mengantarkan saya melewati medan perjuangan, hingga berdiri pada posisi saat ini. Bukan karena hebatnya saya, tapi karena besarnya bimbingan dan keberkahan doa dari beliau.

Tahun-tahun awal di Kecamatan Parengan adalah masa yang tidak mudah. Ketika saya pertama kali dipercaya untuk mengemban amanah di cabang Parengan, saya dihadapkan pada situasi yang benar-benar "kosong". Wilayahnya masih asing, belum banyak gerak organisasi yang terstruktur, dan saya datang seperti membuka lembaran putih yang belum bertuan, dan belum bertinta.

Lebih dari itu, saat itu saya baru saja memiliki buah hati berusia dua bulan. Setiap pagi saya meninggalkan rumah saat ia masih terlelap, dan pulang pun saat ia kembali terlelap. “Berangkat masih tidur, pulang sudah tidur,” begitu saya sering menyebutnya. Tapi begitulah perjuangan, penuh pilihan, penuh pengorbanan.

Di tengah jalan yang masih sepi itu, Allah menghadirkan sosok pembimbing. KH. Miftahul Asror bukan hanya seorang pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Hikmah Karang Sukorejo Parengan dan Kepala SMK Miftahul Hikmah, tapi juga pemimpin yang hidupnya melekat dengan perjuangan. Saat saya masuk di Kecamatan Parengan, beliau menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU dari tahun 2019 hingga 2024. Jiwa organisasinya begitu kuat, semangatnya tak pernah padam, dan kesederhanaannya justru menjadi sumber kekuatan.

Beliau bukan tipe pemimpin yang duduk di menara gading. Meskipun memiliki banyak santri dan jadwal mengaji yang padat di berbagai wilayah, beliau tetap hadir di tengah-tengah kami, mendorong, memotivasi, dan mendoakan. Dan kini, alhamdulillah, beliau dipercaya sebagai Sekretaris PCNU Tuban – sebuah amanah besar yang sepadan dengan dedikasi beliau selama ini.

Namun, sebelum saya mengenal langsung sosok beliau, ada satu orang yang menjadi jembatan, Bapak Muhtadin, atau yang akrab kami sapa Pak Tadin. Beliaulah sekretaris MWCNU Parengan pada masa itu. Lewat tangan dinginnya, saya dikenalkan dan disambungkan kepada Pak Yai Mifta. Sebuah pertemuan yang membawa banyak keberkahan dalam hidup dan perjuangan saya sampai hari ini.

Saya tak mampu membalas segala kebaikan dan bimbingan yang telah beliau berikan. Namun, dari lubuk hati yang terdalam, saya panjatkan doa:

Jazakumullah khairan katsiran wa jazakumullah ahsanal jaza.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan lahir dan batin kepada beliau, menguatkan langkah perjuangannya di jalan Allah, melancarkan segala urusan, dan menjadikan keluarganya keluarga yang sakinah, mawaddah, rohmah wa barokah.
Semoga usia beliau berkah, dan semua yang beliau jalani pun diliputi keberkahan. Aamiin.

Komentar