TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

Kesulitan dulu baru Kemudahan



Kita sudah sering mendengar redaksinya, namun kadang lupa untuk mengamalkannya. Dalam Al-Quran, Allah berfirman, "Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" (Q.S. al-Insyirah [94]: 5). Ungkapan ini sering kita sampaikan kepada teman yang sedang mengalami musibah, dengan berkata, "Sabar ya, pasti ada kebaikan di balik semua itu." Namun, ketika hal buruk menimpa diri kita sendiri, apakah kita bisa ikhlas menerimanya dan mengamalkannya? WaAllahu A’lam, hanya Allah dan manusia yang tahu.

 

Pernahkah kita merenungkan mengapa Allah Swt. tidak berfirman "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan?" Karena kesulitan tidak pernah datang sendirian untuk selamanya. Ia selalu bergandengan dengan kemudahan. Mungkin kita merasa, "Saya sudah mengalami musibah sekian lama, tetapi belum juga menemukan kemudahan." Hal ini terjadi karena kita belum melihat kemudahan yang sebenarnya selalu ada. Demi Allah, kemudahan itu selalu menyertai kesulitan, tinggal bagaimana kita dapat melihatnya. Jika Allah memberikan kemudahan setelah kesulitan, mungkin kita akan berpikir bahwa kesulitan ini tidak ada akhirnya. Kemudahan pasti muncul ketika kesulitan selesai. Padahal, jika kesulitan tidak dibarengi dengan kemudahan, maka hidup kita akan mengalami kesulitan berkepanjangan dan kita bisa menjadi pribadi yang kurang bersyukur kepada Allah.

 

Lihatlah Nabi Ya'qub saat kehilangan putranya yang kedua. Beliau berkata, seperti dituturkan dalam ayat yang artinya, "Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dialah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (Q.S. Yusuf [12]: 83). Dia yakin akan mendapatkan jalan keluar, sehingga musibah yang dialaminya terasa ringan. Kita harus yakin bahwa jalan keluar pasti akan diberikan oleh Allah kepada kita.

 

Semoga kita semua di takdirkan menjadi  hamba yang pandai bersyukur, dan semoga apapun yang sedang kita jalankan mendapatkan kemudahan dan kelancaran serta semoga Ridho Allah selalu menyertai setiap langkah kita.

Komentar