TERBANYAK

Antam

  FOMO adalah reaksi emosional, bukan keputusan rasional. Kamu beli bukan karena paham, tapi karena takut harga naik lagi. Fungsi utama emas adalah menahan inflasi, bukan menggandakan uang. Jadi kalau kamu berharap beli hari ini, jual bulan depan lalu langsung untung besar, kamu salah tempat. Itu bukan investasi, itu spekulasi. Coba perhatikan orang-orang yang benar-benar paham finansial. Mereka tidak beli emas karena rame. Mereka beli karena sudah punya rencana portofolio jelas. kesalahan klasik para korban FOMO adalah Melihat grafik naik, langsung beli. Padahal kalau grafik naiknya curam dan cepat, justru itu sinyal bahaya, bukan peluang. Emas itu bukan alat cari cuan cepat. Emas adalah penjaga nilai, bukan pencetak nilai. Fungsi emas dalam keuangan: 1. Pelindung dari inflasi. Nilainya cenderung stabil jangka panjang. 2. Diversifikasi portofolio. Menyeimbangkan risiko dari aset lain seperti saham atau reksa dana. 3. Likuiditas cadangan. Bisa dijual kapan saja dalam keadaan darura...

9.000 KM – AIB



Pencapaian ini bukan karena saya pintar.
Bukan karena saya rajin belajar.
Bukan karena saya pandai berkomunikasi.
Bukan pula karena kecerdasan yang saya miliki.

Bukan karena saya banyak kenalan.
Bukan karena keberuntungan.

Tidak.
Saya bisa sampai di titik ini semata-mata karena Engkau, ya Allah, masih berkenan menutupi aibku. Segala puji hanya untuk-Mu yang selalu menjaga, membimbing, dan menutup kekurangan hamba-Mu ini. Perjalanan hidup memang tak selalu mulus. Sepanjang jalan, pasti ada yang tak terduga: jalan berlubang, kemacetan, ban bocor, dan rintangan lain.


Setiap perjalanan pun punya titik berhenti, berhenti untuk memulai lagi. Bagi yang menyimpan benci, berhentinya kita mungkin terlihat sebagai kegagalan. Tapi bagi hati yang bersih, berhenti hanyalah jeda sebelum melangkah lebih kuat. Kini menuju kilometer 10.000, saya tidak tahu apa yang akan menanti di sana.

Yang pasti, kebenaran akan selalu menemukan takdirnya sendiri. Bukan berarti kebenaran memihak kita karena sejatinya kebenaran hanya milik Allah SWT. Maka hiduplah dengan tulus, jangan berpura-pura. Pura-pura itu melelahkan.

Kembali soal AIB. Mungkin sebagian orang terdekat tahu apa yang pernah saya alami, bahkan mungkin ada yang berusaha menyebarkan hal negatif tentang saya. Apakah saya khawatir?
Tidak. Karena sebanyak apapun orang tahu aib saya, mereka tidak akan pernah tahu semuanya. Allah yang menutupinya.

Saya hanyalah hamba yang hina. Lantas, apakah itu berarti saya tidak boleh berusaha menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah proses memperbaiki diri harus dilakukan dengan mengabaikan harga diri? Tentu tidak. Bagi saya, harga diri itu harga mati.

Alhamdulillah…
Terima kasih, Gusti. Sampai di kilometer 9.000 ini, Engkau masih berkenan menutupi aibku.
Meski masih ada segelintir hamba-Mu yang mengumbar sedikit dari aib itu, tak apa.
Karena yang mereka sebarkan hanya 0,1% sementara 99,9% lainnya Engkau simpan rapat-rapat.

 

 


Komentar