TERBANYAK

FENOMENA KONTEN PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SNBP 2026

  Pada tanggal 31 Maret 2026, banyak beredar konten tentang pengumuman hasil seleksi SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Berbagai ekspresi ditampilkan ada yang sangat bahagia ketika namanya dinyatakan lulus, ada pula yang tampak datar saat mengetahui dirinya belum berhasil. Saya menyaksikan fenomena ini dengan perasaan yang biasa saja. Bukan karena pada masa saya tidak ada jalur seperti ini justru saya sendiri termasuk salah satu peserta yang pernah lulus tanpa tes, yang dulu dikenal dengan jalur PMDK. Namun, beberapa tahun terakhir terasa ada perbedaan dalam memandang hal tersebut. Tidak lagi terasa luar biasa. Saya melihat bahwa saat ini, sekolah atau universitas justru membutuhkan mahasiswa, bukan sebaliknya. Berbeda dengan era tahun 2000-an, ketika jumlah kampus belum sebanyak sekarang dan persaingan terasa lebih ketat. Bagi yang dinyatakan lulus, jangan cepat merasa puas. Perjalanan masih panjang ini baru awal. Lakukan yang terbaik dan terus berikan yang terbai...

10.012 KM

 



10.012 KM, perjalanan yang tidak mudah, perjalanan yang penuh dengan lika liku, tapi saya sadar bahwa hidup ya harus seperti itu biar bermakna dan berkesan. Angka, iya betul. Angka 12 adalah tanggal dimana saya lahir di bumi pertiwi ini, tiba tiba saya teringat dengan tulisan saya 10 tahun yang lalu. Langsung saja ini adalah tulisan saya yang masih saya simpan di memori laptop

Suara katak yang terdengar merdu malam itu menemani kesendirianku. Aku melirik jam dinding di kamar pondok, dan oh tidak jarum pendeknya sudah menunjuk angka tiga dini hari. Namun, mata ini masih saja enggan terpejam, seolah ada sesuatu yang menghalangi.

Aku duduk seorang diri di kamar kenangan itu. Di hadapanku tergeletak sebuah laptop usang yang dulu begitu setia menemaniku saat menyelesaikan studi di salah satu universitas di Surabaya. Malam yang sunyi membuat tanganku gatal untuk kembali membuka laptop itu.

Sejenak aku menarik napas panjang, menatap sekeliling. Teman sekamarku sudah tertidur pulas, meninggalkanku bersama laptop tua yang setia. Perlahan aku membukanya, lalu berbisik pelan, “Halo, laptop… izinkan aku memanfaatkanmu sekali lagi ya.”

Layar pun menyala. Dengan penuh semangat, jari-jariku menari di atas keyboard, membuka Microsoft Word. Tapi anehnya, mataku mendadak terasa berat, seakan ragu berhadapan dengan cahaya layar. Aku menepuk pipiku sendiri, PLOK! sambil berucap lirih, “Ayo, Jack jangan malas. Lakukan sesuatu yang positif.”

Aku pun bergegas turun untuk mengambil wudhu. Air yang menyentuh wajahku membawa ketenangan baru. Kini tubuhku segar kembali, pikiran lebih ringan, dan laptop pun siap kembali dipermainkan.

Namun, pertanyaan muncul: mau menulis apa? tentang apa?
Dalam keheningan itu, sebuah tamparan batin menyeruak. Ingatan tentang sosok yang selalu menjadi sumber semangat hadir begitu jelas: ayahku. Rindu yang menumpuk membuatku akhirnya memutuskan untuk menulis. Malam itu, di kamar pondok sederhana, aku menuliskan kisah tentang kerinduanku pada sang motivator terbesar dalam hidupku, dia adalah ayahku.

bersambung

 

Komentar