TERBANYAK

Antam

  FOMO adalah reaksi emosional, bukan keputusan rasional. Kamu beli bukan karena paham, tapi karena takut harga naik lagi. Fungsi utama emas adalah menahan inflasi, bukan menggandakan uang. Jadi kalau kamu berharap beli hari ini, jual bulan depan lalu langsung untung besar, kamu salah tempat. Itu bukan investasi, itu spekulasi. Coba perhatikan orang-orang yang benar-benar paham finansial. Mereka tidak beli emas karena rame. Mereka beli karena sudah punya rencana portofolio jelas. kesalahan klasik para korban FOMO adalah Melihat grafik naik, langsung beli. Padahal kalau grafik naiknya curam dan cepat, justru itu sinyal bahaya, bukan peluang. Emas itu bukan alat cari cuan cepat. Emas adalah penjaga nilai, bukan pencetak nilai. Fungsi emas dalam keuangan: 1. Pelindung dari inflasi. Nilainya cenderung stabil jangka panjang. 2. Diversifikasi portofolio. Menyeimbangkan risiko dari aset lain seperti saham atau reksa dana. 3. Likuiditas cadangan. Bisa dijual kapan saja dalam keadaan darura...

14.000 KM

 







14.000 kilometer.
Setiap angka yang terlewati bukan sekadar jarak tapi cerita.
Dan hari ini, seperti biasa, hanya satu kata yang paling pantas saya ucapkan: Alhamdulillah Lagi Alhamdulillah Terus Alhamdulillah Terus Menerus, Tanpa henti.

Seperti yang sering saya tulis, setiap perjalanan membawa kilometer, setiap kilometer membawa pelajaran, dan setiap pelajaran selalu menyimpan pengalaman yang membentuk diri ini. Dan entah bagaimana, dinamika kehidupan selalu hadir di setiap sudut hari saya di kantor, di rumah, di tengah masyarakat, bahkan di layar media sosial. Rasanya, hidup tak pernah benar-benar tenang… tapi justru dari situlah saya belajar untuk berteman dengan dinamika itu sendiri.

Namun di kilometer ke-14.000 ini, saya dipaksa untuk jujur kepada diri sendiri: saya belum sepenuhnya mampu menerima semua dinamika dengan hati yang siap. Saya mencoba, saya memaksa diri untuk kuat, tetapi tetap saja ada titik-titik rapuh yang muncul.

Salah satunya, ketika jarak memisahkan saya dari keluarga di Jombang. Terutama ibu.
Beliau yang hari-harinya kini butuh teman, butuh pendamping… sementara saya berada jauh dari pelukan dan tatapannya.
Ya Allah, setiap kali wajah beliau terlintas, air mata ini seperti tidak punya penutup.
Beliau menua, sementara saya hanya bisa berdoa agar diberi kesempatan untuk menemani hari-hari tuanya. Itu saja. Harapan yang sederhana, tapi terasa begitu dalam.

Dinamika lain datang dari perjalanan saya di “wadah” yang saya jalani. Ada yang bilang saya harus lebih profesional. Tapi profesional yang seperti apa? Profesional menurut pandangan orang yang bagaimana? 
Yang menilai tanpa tahu?
Yang mendengar tanpa mengonfirmasi?
Yang berbicara berdasarkan bisik-bisik?
Kadang hati ini terasa sesak, tapi saya belajar satu hal penting dari semua itu: mengharapkan penilaian baik dari manusia hanya membuka pintu sakit hati. Maka saya belajar melakukan semuanya semata-mata karena Allah. Hanya itu yang menenangkan.

Hari ini saya ingin menjadikannya hari yang istimewa.
Bukan karena ada momen besar, tapi karena saya sadar bahwa tidak ada yang menjamin esok masih menunggu saya. Maka saya mencoba mulai mendokumentasikan hari demi hari, meresapi setiap proses, menikmati setiap langkah.

Saya sedang belajar menantang diri sendiri memaksa diri untuk konsisten.
Satu kebiasaan kecil selama satu bulan.
Lalu bulan berikutnya tambah satu lagi.
Pelan, tapi pasti. Karena saya tahu, konsistensi jauh lebih berarti daripada ratusan motivasi. Keyakinan itu sudah lama ada di kepala, tapi belum pernah benar-benar saya jalani.

Hari ini saya memulainya.
Dengan segala ketidaksempurnaan, dengan segala jatuh bangunnya.
Dan saya hanya bisa meminta doa agar saya kuat menjalaninya.

Salam hangat,
Bang Jack.

Mohon maaf jika masih banyak salah, masih banyak khilaf.
Saya masih belajar… dan setiap orang yang belajar pasti pernah jatuh sebelum akhirnya berdiri lebih kokoh.

 

 

Komentar