14.000
kilometer.
Setiap angka yang terlewati bukan sekadar jarak tapi cerita.
Dan hari ini, seperti biasa, hanya satu kata yang paling pantas saya ucapkan: Alhamdulillah Lagi Alhamdulillah Terus Alhamdulillah Terus Menerus, Tanpa henti.
Seperti
yang sering saya tulis, setiap perjalanan membawa kilometer, setiap kilometer
membawa pelajaran, dan setiap pelajaran selalu menyimpan pengalaman yang
membentuk diri ini. Dan entah bagaimana, dinamika kehidupan selalu hadir di
setiap sudut hari saya di kantor, di rumah, di tengah masyarakat, bahkan di
layar media sosial. Rasanya, hidup tak pernah benar-benar tenang… tapi justru
dari situlah saya belajar untuk berteman dengan dinamika itu sendiri.
Namun di
kilometer ke-14.000 ini, saya dipaksa untuk jujur kepada diri sendiri: saya
belum sepenuhnya mampu menerima semua dinamika dengan hati yang siap. Saya
mencoba, saya memaksa diri untuk kuat, tetapi tetap saja ada titik-titik rapuh
yang muncul.
Salah
satunya, ketika jarak memisahkan saya dari keluarga di Jombang. Terutama ibu.
Beliau yang hari-harinya kini butuh teman, butuh pendamping… sementara saya
berada jauh dari pelukan dan tatapannya.
Ya Allah, setiap kali wajah beliau terlintas, air mata ini seperti tidak punya
penutup.
Beliau menua, sementara saya hanya bisa berdoa agar diberi kesempatan untuk
menemani hari-hari tuanya. Itu saja. Harapan yang sederhana, tapi terasa begitu
dalam.
Dinamika
lain datang dari perjalanan saya di “wadah” yang saya jalani. Ada yang bilang
saya harus lebih profesional. Tapi profesional yang seperti apa? Profesional menurut pandangan orang yang bagaimana?
Yang menilai tanpa tahu?
Yang mendengar tanpa mengonfirmasi?
Yang berbicara berdasarkan bisik-bisik?
Kadang hati ini terasa sesak, tapi saya belajar satu hal penting dari semua
itu: mengharapkan penilaian baik dari manusia hanya membuka pintu sakit
hati. Maka saya belajar melakukan semuanya semata-mata karena Allah. Hanya
itu yang menenangkan.
Hari ini
saya ingin menjadikannya hari yang istimewa.
Bukan karena ada momen besar, tapi karena saya sadar bahwa tidak ada yang
menjamin esok masih menunggu saya. Maka saya mencoba mulai mendokumentasikan
hari demi hari, meresapi setiap proses, menikmati setiap langkah.
Saya
sedang belajar menantang diri sendiri memaksa diri untuk konsisten.
Satu kebiasaan kecil selama satu bulan.
Lalu bulan berikutnya tambah satu lagi.
Pelan, tapi pasti. Karena saya tahu, konsistensi jauh lebih berarti daripada
ratusan motivasi. Keyakinan itu sudah lama ada di kepala, tapi belum pernah
benar-benar saya jalani.
Hari ini
saya memulainya.
Dengan segala ketidaksempurnaan, dengan segala jatuh bangunnya.
Dan saya hanya bisa meminta doa agar saya kuat menjalaninya.
Salam
hangat,
Bang Jack.
Mohon
maaf jika masih banyak salah, masih banyak khilaf.
Saya masih belajar… dan setiap orang yang belajar pasti pernah jatuh sebelum akhirnya
berdiri lebih kokoh.
Komentar
Posting Komentar