TERBANYAK

2025

  “Tidak perlu sibuk menjelaskan siapa diri kita, tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan, dan mereka yang membencimu tidak akan pernah mempercayainya.” — Ali bin Abi Thalib Sunyi, senyap, diam, dan berada di belakang layar empat kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan saya sepanjang tahun 2025. Sebuah tahun di mana penilaian terhadap diri ini kerap berhenti pada rasan-rasan, tak pernah sampai ke telinga, namun terasa di hati. Begitulah kehidupan; setiap orang berhak menilai, dan kita pun berhak memilih bagaimana menyikapinya. Tahun 2025 menghadirkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran tentang menahan diri, tentang menerima, dan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Semua itu saya simpan sebagai bekal untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang riang gembira. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih menutup aib hamba yang dhaif ini. Jika ada sedikit keberhasilan atau...

14.000 KM

 







14.000 kilometer.
Setiap angka yang terlewati bukan sekadar jarak tapi cerita.
Dan hari ini, seperti biasa, hanya satu kata yang paling pantas saya ucapkan: Alhamdulillah Lagi Alhamdulillah Terus Alhamdulillah Terus Menerus, Tanpa henti.

Seperti yang sering saya tulis, setiap perjalanan membawa kilometer, setiap kilometer membawa pelajaran, dan setiap pelajaran selalu menyimpan pengalaman yang membentuk diri ini. Dan entah bagaimana, dinamika kehidupan selalu hadir di setiap sudut hari saya di kantor, di rumah, di tengah masyarakat, bahkan di layar media sosial. Rasanya, hidup tak pernah benar-benar tenang… tapi justru dari situlah saya belajar untuk berteman dengan dinamika itu sendiri.

Namun di kilometer ke-14.000 ini, saya dipaksa untuk jujur kepada diri sendiri: saya belum sepenuhnya mampu menerima semua dinamika dengan hati yang siap. Saya mencoba, saya memaksa diri untuk kuat, tetapi tetap saja ada titik-titik rapuh yang muncul.

Salah satunya, ketika jarak memisahkan saya dari keluarga di Jombang. Terutama ibu.
Beliau yang hari-harinya kini butuh teman, butuh pendamping… sementara saya berada jauh dari pelukan dan tatapannya.
Ya Allah, setiap kali wajah beliau terlintas, air mata ini seperti tidak punya penutup.
Beliau menua, sementara saya hanya bisa berdoa agar diberi kesempatan untuk menemani hari-hari tuanya. Itu saja. Harapan yang sederhana, tapi terasa begitu dalam.

Dinamika lain datang dari perjalanan saya di “wadah” yang saya jalani. Ada yang bilang saya harus lebih profesional. Tapi profesional yang seperti apa? Profesional menurut pandangan orang yang bagaimana? 
Yang menilai tanpa tahu?
Yang mendengar tanpa mengonfirmasi?
Yang berbicara berdasarkan bisik-bisik?
Kadang hati ini terasa sesak, tapi saya belajar satu hal penting dari semua itu: mengharapkan penilaian baik dari manusia hanya membuka pintu sakit hati. Maka saya belajar melakukan semuanya semata-mata karena Allah. Hanya itu yang menenangkan.

Hari ini saya ingin menjadikannya hari yang istimewa.
Bukan karena ada momen besar, tapi karena saya sadar bahwa tidak ada yang menjamin esok masih menunggu saya. Maka saya mencoba mulai mendokumentasikan hari demi hari, meresapi setiap proses, menikmati setiap langkah.

Saya sedang belajar menantang diri sendiri memaksa diri untuk konsisten.
Satu kebiasaan kecil selama satu bulan.
Lalu bulan berikutnya tambah satu lagi.
Pelan, tapi pasti. Karena saya tahu, konsistensi jauh lebih berarti daripada ratusan motivasi. Keyakinan itu sudah lama ada di kepala, tapi belum pernah benar-benar saya jalani.

Hari ini saya memulainya.
Dengan segala ketidaksempurnaan, dengan segala jatuh bangunnya.
Dan saya hanya bisa meminta doa agar saya kuat menjalaninya.

Salam hangat,
Bang Jack.

Mohon maaf jika masih banyak salah, masih banyak khilaf.
Saya masih belajar… dan setiap orang yang belajar pasti pernah jatuh sebelum akhirnya berdiri lebih kokoh.

 

 

Komentar