TERBANYAK

Antam

  FOMO adalah reaksi emosional, bukan keputusan rasional. Kamu beli bukan karena paham, tapi karena takut harga naik lagi. Fungsi utama emas adalah menahan inflasi, bukan menggandakan uang. Jadi kalau kamu berharap beli hari ini, jual bulan depan lalu langsung untung besar, kamu salah tempat. Itu bukan investasi, itu spekulasi. Coba perhatikan orang-orang yang benar-benar paham finansial. Mereka tidak beli emas karena rame. Mereka beli karena sudah punya rencana portofolio jelas. kesalahan klasik para korban FOMO adalah Melihat grafik naik, langsung beli. Padahal kalau grafik naiknya curam dan cepat, justru itu sinyal bahaya, bukan peluang. Emas itu bukan alat cari cuan cepat. Emas adalah penjaga nilai, bukan pencetak nilai. Fungsi emas dalam keuangan: 1. Pelindung dari inflasi. Nilainya cenderung stabil jangka panjang. 2. Diversifikasi portofolio. Menyeimbangkan risiko dari aset lain seperti saham atau reksa dana. 3. Likuiditas cadangan. Bisa dijual kapan saja dalam keadaan darura...

PERTANYAAN




 Bagaimana mungkin aku bisa berhenti mengeluh?

Melakukan yang terbaik saja rasanya belum pernah benar-benar maksimal.
Lalu bagaimana mungkin pikiran besar dan sikap positif selalu tertanam di kepala ini,
jika mengeluh justru hampir menjadi kebiasaan setiap hari?

Mungkinkah mencintai pekerjaan akan membuat hati terasa nyaman,
jika menjalaninya pun masih setengah hati?

Apakah semua cita-cita benar-benar bisa terwujud,
jika niat melangkah saja belum sepenuhnya karena lillahi ta’ala?
Bisakah pengabdian, khidmah, dan pekerjaan berjalan beriringan,
sementara berpura-pura baik masih sering kita lakukan?

Apa arti prestasi? Apa makna pembuktian? Dan apa sebenarnya pencapaian itu,
jika tolak ukurnya masih berkiblat pada hal-hal
yang semua orang bisa lakukan tanpa pernah benar-benar diketahui?

Mungkinkah perubahan menuju yang lebih baik akan terjadi,
jika saran dan kritik saja enggan diterima?
Lalu, apakah mereka yang berani mengkritik dan memberi masukan
akan selalu tersingkir oleh mereka yang anti kritik?

Bukankah dalam sebuah kelompok manusia
dibutuhkan sosok yang berani berkata apa adanya?
Dibutuhkan perbedaan, agar bangunan yang didirikan
menjadi lebih kokoh dan indah.
Bayangkan jika semua orang di dalamnya memiliki karakter yang sama
apa jadinya karya yang lahir dari keseragaman itu?

Apakah benar, mereka yang berbeda akan selalu jadi bahan rasan rasan?
Apakah menulis kegelisahan ini justru akan membawa masalah bagi diri sendiri?

Menjelang akhir tahun 2025,
pertanyaan-pertanyaan itu membelenggu jiwa ini.
Mungkinkah semua ini bagian dari skenario Tuhan?
Ataukah hanya diriku yang belum cukup pandai memaklumi?

Ah, sudahlah.
Mari nikmati saja hidup di panggung sandiwara ini,
sambil berharap, di balik semua drama,
akan selalu ada jawaban meski mungkin juga berselimut sandiwara.

 

Komentar